Tugas Boulevard from Mirrah A. (Fa’08)
Selasa minggu lalu, gw dikasih tugas sama kakak2 dari Boulevard. Boulevard itu apa ya? Boulevard adalah salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di ITB, yang bergerak dalam bidang jurnalistik. So far, Boulevard sudah terbit 61 kali, Agustus ini merupakan edisi ke-61 mereka. Emm,tugas apa sih yang dikasih? Oke, nih dia tugasnya.
Sebagai calon jurnalis (yang bakal masuk Boulevard,,,Amin) gw dikasih tahu mengenai elemen-elemen jurnalisme. Ada 10 bu! Kesepuluh elemen juranlisme itu adalah hasil pemikiran duo wartawan ulung asal Amerika, yaitu Bill Kovach dan Tom Rosesntiel. Mereka menuangkan semua elemen tersebut dalam buku yang berjudul The Elements of Journalism (awalnya 9 elemen kemudian ketika direvisi April 2007 lalu, barulah elemen ke-10 muncul…). Tugas pertama gw adalah mencari tahu apakah elemen ke-10 itu. Kakak2nya ngejelasin sampai 9 aja. Next task is, I have to answer 9 questions related with each of 9 elements which are written on the hand-out they gave me. Dan semua hasil tugas itu mesti dikirim via blog! Jadi, blog gw ini aslinya emang gw dedicate buat Boulevard,,,buat ngirim tugas ke mereka..
Jawaban pe-er Boulevard:
-
Apakah elemen ke-10 Jurnalisme menurut Bill Kovach dan Tom Rosesntiel?
Dalam edisi revisi dari The Elements of Journalism, elemen ke-10 adalah, “Citizens, too, have rights and responsibilities when it comes to the news.” Kovach dan Rosenstiel mengkaitkan elemen terbaru ini dengan perkembangan teknologi informasi – - internet khususnya. Munculnya blog dan online journalism serta maraknya jurnalisme warga (citizen journalism), community journalism dan media alternatif.
Begitulah yang tertulis di internet, pendapat gw tentang elemen ke-10 adalah seperti berikut. Secara harfiah arti dari kalimat B.Inggris di atas adalah, “Warga, juga, mempunyai hak dan tanggung jawab terhadap hal-hal yang bersangkutan dengan berita”.
Warga negara ternyata elemen yang penting buat memajukan jurnalistik. Mereka menyumbangkan pemikiran, opini, even fresh news, yang ngebuat jurnalistik berkembang. Warga negara sekarang ini, menyadari bahwa mereka punya hak dan kewajiban untuk menanggapi sebuah berita. And begitulah seorang jurnalis, ia adalah salah seorang warga negara juga sehingga ia punya hak dan kewajiban yang sama terhadap hal-hal yang bersangkutan dengan berita. Tentunya ia harus menjalankan hak dan kewajiban tersebut. Warga negara biasa aja udah ada ngejalanin hak dan kewajiban itu (contohnya blog, online journalism, citizen journalism, de-el-el), jurnalis sejati harus lebih lagi dong ngejalaninnya! (wah berat bahasa gw!). Jurnalis mesti really concern dengan berita yang ada disekitarnya, karena dia punya hak dan tanggung jawab untuk melakukan hal itu.
2. Berikut ini adalah jawaban dari tiap pertanyaan mengenai 9 elemen jurnalisme:
- Elemen pertama adalah kebenaran. Kebenaran macam apa yang dimaksud untuk disampaikan?
Menurut sumber terpercaya gw, yaitu internet, Kovach dan Rosenstiel menerangkan bahwa masyarakat butuh prosedur dan proses guna mendapatkan apa yang disebut kebenaran fungsional. Polisi melacak dan menangkap tersangka berdasarkan kebenaran fungsional. Hakim menjalankan peradilan juga berdasarkan kebenaran fungsional. Pabrik-pabrik diatur, pajak dikumpulkan, dan hukum dibuat. Guru-guru mengajarkan sejarah, fisika, atau biologi, pada anak-anak sekolah. Semua ini adalah kebenaran fungsional.
Namun apa yang dianggap kebenaran ini senantiasa bisa direvisi. Seorang terdakwa bisa dibebaskan karena tak terbukti salah. Hakim bisa keliru. Pelajaran sejarah, fisika, biologi, bisa salah. Bahkan hukum-hukum ilmu alam pun bisa direvisi.
Hal ini pula yang dilakukan jurnalisme. Bukan kebenaran dalam tataran filosofis. Tapi kebenaran dalam tataran fungsional. Orang butuh informasi lalu lintas agar bisa mengambil rute yang lancar. Orang butuh informasi harga, kurs mata uang, ramalan cuaca, hasil pertandingan bola dan sebagainya.
Selain itu kebenaran yang diberitakan media dibentuk lapisan demi lapisan. Kovach dan Rosenstiel mengambil contoh tabrakan lalu lintas. Hari pertama seorang wartawan memberitakan kecelakaan itu. Di mana, jam berapa, jenis kendaraannya apa, nomor polisi berapa, korbannya bagaimana. Hari kedua berita itu mungkin ditanggapi oleh pihak lain. Mungkin polisi, mungkin keluarga korban. Mungkin ada koreksi. Maka pada hari ketiga, koreksi itulah yang diberitakan. Ini juga bertambah ketika ada pembaca mengirim surat pembaca, atau ada tanggapan lewat kolom opini. Demikian seterusnya.
Jadi kebenaran dibentuk hari demi hari, lapisan demi lapisan. Ibaratnya stalagmit, tetes demi tetes kebenaran itu membentuk stalagmit yang besar. Makan waktu, prosesnya lama. Tapi dari kebenaran sehari-hari ini pula terbentuk bangunan kebenaran yang lebih lengkap.
Waduh, susah bu! Sejujurnya nih gw gak ngerti. Kenapa gw kasih penjelasan yang panjang banget ini? Supaya you all know that ini nih outline yang bakal gw translate ke bahasa gw sendiri.
Kebenaran memang macem2 tergantung orangnya. Yang gw tangkep dari penjelasan panjang di atas adalah, kebenaran yang dikategorikan sebagai “kebenaran” (hmm belibet neh) adalah sesuatu yang kalau diterapkan bisa menghasilkan sesuatu yang sesuai harapan, sesuatu yang nyata hasilnya. Contohnya rute jalan, kalau memang bisa sampai ke tujuan maka itulah rute yang benar. Tiap orang bisa ngasih tahu berbagai rute, tapi satu doang yang bisa nganterin ke jalan yang benar.
Terus maksudnya kebenaran terbentuk lapisan demi lapisan?? Nah, analoginya rute jalan lagi ya,, Seiring berjalannya waktu, orang-orang menemukan rute baru, ada juga yang mengoreksi rute-rute yang sebelumnya salah. Akhirnya beberapa rute jalan yang benar muncul. Begitulah kebenaran, seiring dengan majunya pola pikir masyarakat, apa yang dianggap sebagai kebenaran akan terus berkembang sesuai zaman. Tapi tetap satu esensinya, kebenaran itu adalah hal yang bila diaplikasikan akan mendatangkan hasil yang nyata dan berguna.
2. Bagaimana seorang jurnalis membagi-bagi antara kepentingan publik, pembaca, dan pengiklan?
Pendapat gw, sebagai jurnalis harusnya kita mendahulukan para pembaca. Pembaca itu yang memperhatikan tulisan-tulisan kita, yah mesti kita perlakukan dengan baik dong mereka. Yang kedua barulah publik, dan terakhir pengiklan. Publik dan pengiklan membuat seorang jurnalis cenderung untuk gak menampilkan berita apa adanya. Publik membuat seorang jurnalis berusaha bikin berita yang sensasional, sedangkan pengiklan ngebuat jurnalis lebih memikirkan segi bisnis sebuah berita ketimbang kepentingan pembacanya.
3. Bagaimana tatacara verifikasi yang seharusnya dilakukan oleh seorang jurnalis?
Verifikasi yang mengecek ke lebih dari satu sumber. Lebih baik lagi kalau sumber tersebut adalah sumber yang independen, tidak berbackground kepentingan lain. Dalam memverifikasi suatu berita, seorang jurnalis mesti mengabaikan rumor, gossip, ingatan-ingatan dari orang-orang yang kurang terpercaya,dan bukti-bukti yang rentan termanipulasi. Coba cari perspektif baru yang kemudian menghasilkan informasi baru pula.
4.Independensi yang seperti apakah yang harus dilakukan wartawan?
Meliput berita apa adanya, tanpa tekanan, tanpa takut, dan tanpa konflik kepentingan. Emang sih, benar-benar independen tuh susah! Bayangin kalau kita bekerja untuk sebuah media, tapi fakta yang ada justru menjelekkan media kita. Bingung,kan mau nulis apa? Bill Kovach memberi solusi yaitu wartawan sebaiknya memberikan penjelasan tentang hubungannya dengan subjek berita tersebut (baik secara implisit maupun eksplisit) agar pembaca dapat menangkap bahwa laporan yang ditulis tidak independen-independen banget. Tapi, kalau tidak ada aral melintang, yah tulislah berita sesuai kenyataan yang ada. Itu independent menurut gw.
5. Apakah maksud dari investigative reporting?
Investigative reporting atau lazim disebut dengan reportase investigasi adalah sebuah jenis reportase di mana si reporter berhasil menunjukkan siapa yang salah, siapa yang melakukan pelanggaran hukum, yang seharusnya jadi terdakwa, dalam suatu kejahatan publik yang sebelumnya dirahasiakan. Wes, hebat banget bisa ngungkapin semuanya gitu! Kok bisa? Dari kata-kata reportase investigasi, yang terbayang di benak kita pasti suatu laporan berdasarkan penyelidikan yang penuh kerja keras dan ketelitian. Nyatanya memang begitu.
Langkah investigasi merupakan langkah yang sangat berani baik dari pihak reporter (yang mempertaruhkan keselamatan dirinya sendiri) maupun pihak media dimana reporter tersebut bernaung. Tidak sembarang orang yang bisa melakukannya dan tidak semua berita layak masuk dalam daftar sesuatu yang mesti di-investigasi. Masalah yang diangkat harus berhubungan dengan kepentingan publik dan syarat investigasi adalah “pikiran yang terbuka”. Pikiran yang dapat menerima fakta yang ada, tidak terkungkung dengan pemikiran sendiri saja.
6. Mengapa jurnalisme perlu menjadi forum publik?
Manusia mempunyai rasa ingin tahu. Ketika ada laporan mengenai suatu peristiwa, orang-orang pasti ingin mengetahui tentang peristiwa tersebut. Dari situlah timbul berbagai opini, tanggapan, ide, dsb. Jurnalisme mengakomodasi semua itu sehingga berbagai tanggapan itu bisa sampai pada khalayak luas. Itulah arti jurnalisme sebagai forum public, dan disinilah kebebasan berpendapat terlaksana.
7.Bagaimana cara menjadikan sebuah laporan memikat dan relevan?
Relevan berarti topiknya sesuai dengan apa yang lagi terjadi saat itu, memikat berarti menarik. Sebuah laporan harus relevan dulu, nah ngebuat laporan itu jadi menarik itu tergantung pada kreativitas si wartawan sendiri. Sang wartawan harus belajar memilih topic yang pas dan berkreatif ria agar laporannya menarik.
8.Seperti apakah berita yang proporsional dan komperehensif itu?
Berita yang pemaparannya sesuai untuk pembacanya, ter-integrated dengan baik, memberikan informasi yang dibutuhkan (sesuai 5W+1H), dan dalam porsi yang pas (tidak berpanjang-panjang dengan suatu cerita dan tidak pula teralu singkat menjabarkannya).
9.Bagaimanakah peran hati nurani bagi seorang jurnalis dalam mengerjakan tulisannya?
“Setiap individu reporter harus menetapkan kode etiknya sendiri, standarnya sendiri dan berdasarkan model itulah dia membangun karirnya,” kata wartawan televisi Bill Kurtis dari A&E Network.
Seorang jurnalis haruslah mendengarkan hati nuraninya sendiri. Semua wartawan seyogyanya punya pertimbangan pribadi tentang etika dan tanggungjawab sosial. Dalam membuat suatu berita, bila ia merasa ada sesuatu yang kurang pantas, seperti terlalu rasis atau sangat menyudutkan satu pihak, maka sebaiknya berita tersebut direvisi. Pantas atau tidak sebuah tulisan dipublikasikan, di situlah nurani berperan.
Fiuh… Selesai deh nih tugas. Dari berbagai jawaban di atas, ada yang merupakan pendapat gw dan ada juga hasil mengintisarikan dari berbagai sumber. Ini nih sumber-sumber gw:
-
Website-nya LPM HAYAMWURUK
REFLEKSI BUDAYA DAN INTELEKTUALITAS MAHASISWA
Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Sastra
Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
2. Blog-nya Pak Jaiz tentang Sembilan Elemen Jurnalisme
3. Blog-nya Pak Andreas Harsono tentang Investigative Reporting
4. Website Pantau.or.id
Yak,that’s all dari gw!! Sorry kalau ada kesalahan, maklum udah malem ngepostingnya,,Byebye…