Posted by: Mirrah | November 1, 2008

Yesterday Noon was Hell!

Kmaren UTS kimia gembel,,

Gw gak bisa,,

langsung ngeblank semua pas gw liat tuh soal,,

Sekarang gw selalu menyebut UTS kimia dalam doa gw.  “Ya Allah, semoga nilai UTS Kimiaku bagus. Semoga apa yang kujawab benar semua dan kalaupun ada yang salah, semoga orang yang memeriksa tidak melihat kesalahan itu. Semoga yang memeriksa adalah orang baik dan murah hati dalam memberikan nilai. Amin”

Pokoknya UTS 2 gw mesti bagus, mesti 100!!!!! Amin.

Berlarilah tanpa lelah, sampai engkau meraihnya!!!!!

Posted by: Mirrah | October 11, 2008

Kenapa mesti balik????

AArrggghhh,,, sebel banget gw! Males sekali kembali lagi ke Bandung, terus kuliah,,,,, Ukh, males! Dan yang paling gw males adalah menghadapi beberapa tampang menyebalkan dan tugas yang pastinya bakal tambah banyak!

!@%&^^I*)(*(&&% SEBELL

Liburan, kapan kau datang lagi????

Posted by: Mirrah | September 29, 2008

Menurut gw UTS…menurut loe?

Sekarang H-2 dan gw semakin gak sabar buat lebaran. Besok hari terakhir puasa 1429H, ckckck gak kerasa ya… Ukhhh bingung mau nge blog apaan. Tentang UTS Kalkulus aja deh.

UTS Kalkulus tuh tanggal 26, sehari sebelumnya pas sore2 lagi di angkot, gw dan temen gw ngeliat baliho enggg.. spanduk deng… yang tulisannya “Bocorkan Jawaban UTS Kalkulus!”. Hahaha, sempet-sempetnya yaa ngebuat gituan! Gw rasa bukan anak 2008 deh, soalnya lagi sibuk belajar kalkulus lah! 🙂 🙂

Buat yang belum sempet liat, silakan berdiri di gerbang belakang ITB, menghadap ke jalan raya. Spanduknya warna kuning, tauk deh masih ada atau enggak.

Night before UTS Calculus…

Rencana: Belajar ampe malem, buku kalkulus dibaca supaya paham banget teorinya,kerjain semua soal latihan yang dikasih.

Kenyataan: Tertidur pada pukul sepuluh malam, terbangun pukul satu terus belajar lagi, karena laper akhirnya sahur jam setengah tiga, disusul ngantuk buanget dan tertidur jam 3.15,,, rencana tinggal rencana

Ah sebel gw! Kok ngantuk kan banget yak??? Berhubung hari jumat kuliahnya selesai jam sepuluh, rencana gw adalah pulang ke kost-an terus belajar ampe jam dua. Terus siap-siap ke kampus karena UTS jam 3. You know what, lagi-lagi tidur gw!!! Jam dua gw bangun dan langsung solat Dzuhur. Abis itu ciao gw ke kampus! Sebenernya gw cukup yakin dengan diri gw untuk menghadapi UTS kalkulus, tapi gak pede aja kalau belajarnya belum mati-matian. Ya udah pasrahlah! Semoga Yang Maha Mengetahui memberikan yang terbaik!

Finally, jam 5 sore UTS selesai. Alhamdulillah gw yakin dan bisa. Thanks God! UTS pertama gw berjalan lancar. Mungkin persiapannya harus dimatangkan lagi. kebetulan aja di UTS pertama ini, dengan persiapan seadanya, gw mampu ngadepinnya. Tapi lain kali gak boleh kayak gini lagi! Friends, gimana UTS loe???

Posted by: Mirrah | September 28, 2008

BSB, Bukan Seminar Biasa!

Sabtu, 6/9 kemarin, gw ikutan seminar menulis yang diadain oleh HMF Ars Praeparandi (himpunan gw nantinya nih!!). Pagi-pagi dah dateng gw,, ternyata nak 2008 nya cuma 4 orang! Banyakkan dari 2005,2006 gitu, yang 2007 juga dikit. Seminar asik, ada 3 sesi: karya Ilmiah, Artikel Ilmiah, dan Cerpen. Pembicara sesi I adalah Pak I Ketut Adnyana. Tau gak siapa? Beliau ini kolumnis di Kompas sekaligus dosen Farmasi ITB. Bangga nih jadinya,,

Sesi II pembicaranya adalah Wakil PemRed Pikiran Rakyat, Pak Budiana. Dan sesi III, narasumbernya Tere-Liye, pengarang buku Hafalan Surat Delisa dan moga Bunda disayang Allah.

Sumpah, seumur-umur ikut seminar, baru kali ini gw bener2 antusias dan semanagat! Banyak banget hal tentang menulis yang gw dapet dari penjelasan mereka ber-3. Despite yang acaranya sampai sore, tapi gw seneng aja. Kalau loe ngeliat gimana sosok seorang penulis ketika dia sedang berbicara, loe bakal tahu bahwa yang namanya penulis bermutu itu adalah orang yang cerdas. Gw inget banget kata-katanya Bang Tere-Liye (dia harus dipanggil “Bang”, bukan “Mas” atau “Pak” de-el-el), bahwa bahasa adalah simbolisasi kecerdasan.

Wahh, pas denger quote itu, hati gw terharu (bener deh terharu gw). Kenapa bisa terharu? Soalnya quote-nya bermakna sekali. Orang yang cerdas pasti punya kemampuan lingua yang bagus, punya kemampuan berbicara (baca:berbahasa) yang baik.  Ada rasa malu yang terbersit juga,soalnya selama ini gw gak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Jadi inget kata-kata dosen kimia gw, beliau bilang “Bahasa SMS itu merusak sekali! Huruf besar dan kecilnya tidak beraturan, banyak kata-kata yang disingkat. Saya heran, orang-orang luar negeri tidak pernah menyingkat-nyingkat kalau SMS. Cuma orang Indonesia aja yang begitu.”

Hooo..orang Indonesia kalah lagi nih. Padahal dalam halsederhana, SMS. Tapi menurut gw, coba lihat dari sisi efisiennya. Dengan bahas yang lebih singkat, pesan lebih cepat tersampaikan, khan? Sayangnya bukan itu yang kita bahas, sekarang kita lagi liat dari sisi bahasanya. Dengan menyingkat, rasanya sebuah kata tuh kurang dihargai. Ngapain capek2 ada kata “BISA” kalau dengan “BS” aja, orang juga sudah pada ngerti. Emm kalo gitu sekalian aja iklan M-150 Bisa! diganti dengan M-150 Bs! 😉

Waduh, sok banget yah! Padahal gw juga sering nyingkat-nyingkat di SMS… Yah, setidaknya gw coba deh pakai bahasa yang benar… Paling enggak kalau SMS-an sama adek gw, gw pake bahasa Indonesia yang benar. Kasian juga kalau anak segede adek gw udah dikasih bahasa SMS, gak ngerti dia…

Back to seminar Menulis HMF! Setelah ngasih quote berharga (menurut gw), Bang Tere melanjutkan omongannya lagi. Beliau ngasih 9 tips menulis,, yang bermanfaat lah! Yang paling jelas dan pasti adalah Tulis, Tulis dan Tulis. Don’t care how bad or good we are in writing, but at least you try! If you don’t succeed at the first time, try harder! A success person is not the one who performs well at the first time he try. He struggles more than that, there is no barrier that can bring him down.

Guys, so shall it be if we want to try..

Oh iya, kalau dari Pak Budi, yang paling gw inget adalah, “Jadilah penulis yang sesuai bidang dan tahu apa yang kamu tulis. jangan baru sedikit tahu tentang sesuatu, lalu udah nulis aja! Semakin banyak kita sok tahu dengan apa yang kita tulis, maka semakin orang-orang tahu mengenai kedangkalan kita tentang topik tersebut.”

Huahh menggugah juga nih! Sering banget kan kita sok tahu, terus memberi tanggapan baik secara lisan dan tulisan.. Padahal mungkin ada orang yang lebih tahu, tapi diam saja memperhatikan tingkah laku orang-orang sok tahu di sekitarnya. Masalahnya adalah gimana kalau orang yang  lebih tahu itu ada banyak, sementara si sok tahu cuma seorang diri? Si sok tahu merasa dirinya dianggap pintar karena para orang yang lebih tahu cuma diam memperhatikan saja.. Padahal? Dalam hati mereka bilang, “Ni orang, ilmu cuma dikit, belagu! Gak tau situasi!”.. Kejadian kayak gini gue alamin beberapa waktu lalu, pas ngumpul unit di kampus.

Si Orang Sok Tahu (SOST) : “Gini, gimana kalau kita cetak 1000 aja?”

Para Orang Yang Tahu, termasuk gw (POYT) : “Haah? Gak mungkin! Kegedean kali!”

SOST : “Pertimbangan gedenya darimana? ”

POYT: “Ini kan proyek kecil, jumlah 1000 itu terlalu banyak. Kita semua udah ngomongin itu tadi. Dan sepakat mencetak antara 300-500 aja”

SOST : “Oh udah diomongin. Sebenernya gw cuma asal nyebut angka aja sih tadi..”

Dalam hati gw berkata, “Loe cuma ngelama-lamain pertemuan ini tauk! Sotok sih! Loe pikir kita gak ngomongin itu apa?? We already step ahead you know!”

buat yang ngerasa, maafkanlah diri Anda karena telah membuat Anda terjebak dalam salah satu tulisan di blog saya…

Next dari Seminar HMF adalah saran dari Pak Ketut Adnyana, “Usahakan hasil karya ilmiah adalah berdasarkan research. Data bisa saja salah, tapi itu tidak apa-apa. Tidak harus dimanipulasi agar jadi benar. Esensinya adalah penelitian yang telah susah payah dilakukan.”

Kesimpulannya, ketiga penulis berbakat di atas, menyarankan suatu hardwork bila ingin menulis. Hardwork yang honest, fresh from our brilliant and thoughtful ideas.

Tulisan-tulisan pujangga besar gak pernah lekang oleh waktu karena di dalamnya selalu ada hardwork yang pantas dikenang.

Dah jam sebelas malem nih, hoahmm ngantuk! Udah yuk… Goodnight, friend!

Posted by: Mirrah | September 1, 2008

Tugas Boulevard

Tugas Boulevard from Mirrah A. (Fa’08)

Selasa minggu lalu, gw dikasih tugas sama kakak2 dari Boulevard. Boulevard itu apa ya? Boulevard adalah salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di ITB, yang bergerak dalam bidang jurnalistik. So far, Boulevard sudah terbit 61 kali, Agustus ini merupakan edisi ke-61 mereka. Emm,tugas apa sih yang dikasih? Oke, nih dia tugasnya.

Sebagai calon jurnalis (yang bakal masuk Boulevard,,,Amin) gw dikasih tahu mengenai elemen-elemen jurnalisme. Ada 10 bu! Kesepuluh elemen juranlisme itu adalah hasil pemikiran duo wartawan ulung asal Amerika, yaitu Bill Kovach dan Tom Rosesntiel. Mereka menuangkan semua elemen tersebut dalam buku yang berjudul The Elements of Journalism (awalnya 9 elemen kemudian ketika direvisi April 2007 lalu, barulah elemen ke-10 muncul…). Tugas pertama gw adalah mencari tahu apakah elemen ke-10 itu. Kakak2nya ngejelasin sampai 9 aja. Next task is, I have to answer 9 questions related with each of 9 elements which are written on the hand-out they gave me. Dan semua hasil tugas itu mesti dikirim via blog! Jadi, blog gw ini aslinya emang gw dedicate buat Boulevard,,,buat ngirim tugas ke mereka..

Jawaban pe-er Boulevard:

  1. Apakah elemen ke-10 Jurnalisme menurut Bill Kovach dan Tom Rosesntiel?

Dalam edisi revisi dari The Elements of Journalism, elemen ke-10 adalah, “Citizens, too, have rights and responsibilities when it comes to the news.” Kovach dan Rosenstiel mengkaitkan elemen terbaru ini dengan perkembangan teknologi informasi – – internet khususnya. Munculnya blog dan online journalism serta maraknya jurnalisme warga (citizen journalism), community journalism dan media alternatif.

Begitulah yang tertulis di internet, pendapat gw tentang elemen ke-10 adalah seperti berikut. Secara harfiah arti dari kalimat B.Inggris di atas adalah, “Warga, juga, mempunyai hak dan tanggung jawab terhadap hal-hal yang bersangkutan dengan berita”.

Warga negara ternyata elemen yang penting buat memajukan jurnalistik. Mereka menyumbangkan pemikiran, opini, even fresh news, yang ngebuat jurnalistik berkembang. Warga negara sekarang ini, menyadari bahwa mereka punya hak dan kewajiban untuk menanggapi sebuah berita. And begitulah seorang jurnalis, ia adalah salah seorang warga negara juga sehingga ia punya hak dan kewajiban yang sama terhadap hal-hal yang bersangkutan dengan berita. Tentunya ia harus menjalankan hak dan kewajiban tersebut. Warga negara biasa aja udah ada ngejalanin hak dan kewajiban itu (contohnya blog, online journalism, citizen journalism, de-el-el), jurnalis sejati harus lebih lagi dong ngejalaninnya! (wah berat bahasa gw!). Jurnalis mesti really concern dengan berita yang ada disekitarnya, karena dia punya hak dan tanggung jawab untuk melakukan hal itu.

2. Berikut ini adalah jawaban dari tiap pertanyaan mengenai 9 elemen jurnalisme:

  1. Elemen pertama adalah kebenaran. Kebenaran macam apa yang dimaksud untuk disampaikan?

Menurut sumber terpercaya gw, yaitu internet, Kovach dan Rosenstiel menerangkan bahwa masyarakat butuh prosedur dan proses guna mendapatkan apa yang disebut kebenaran fungsional. Polisi melacak dan menangkap tersangka berdasarkan kebenaran fungsional. Hakim menjalankan peradilan juga berdasarkan kebenaran fungsional. Pabrik-pabrik diatur, pajak dikumpulkan, dan hukum dibuat. Guru-guru mengajarkan sejarah, fisika, atau biologi, pada anak-anak sekolah. Semua ini adalah kebenaran fungsional.
Namun apa yang dianggap kebenaran ini senantiasa bisa direvisi. Seorang terdakwa bisa dibebaskan karena tak terbukti salah. Hakim bisa keliru. Pelajaran sejarah, fisika, biologi, bisa salah. Bahkan hukum-hukum ilmu alam pun bisa direvisi.
Hal ini pula yang dilakukan jurnalisme. Bukan kebenaran dalam tataran filosofis. Tapi kebenaran dalam tataran fungsional. Orang butuh informasi lalu lintas agar bisa mengambil rute yang lancar. Orang butuh informasi harga, kurs mata uang, ramalan cuaca, hasil pertandingan bola dan sebagainya.
Selain itu kebenaran yang diberitakan media dibentuk lapisan demi lapisan. Kovach dan Rosenstiel mengambil contoh tabrakan lalu lintas. Hari pertama seorang wartawan memberitakan kecelakaan itu. Di mana, jam berapa, jenis kendaraannya apa, nomor polisi berapa, korbannya bagaimana. Hari kedua berita itu mungkin ditanggapi oleh pihak lain. Mungkin polisi, mungkin keluarga korban. Mungkin ada koreksi. Maka pada hari ketiga, koreksi itulah yang diberitakan. Ini juga bertambah ketika ada pembaca mengirim surat pembaca, atau ada tanggapan lewat kolom opini. Demikian seterusnya.
Jadi kebenaran dibentuk hari demi hari, lapisan demi lapisan. Ibaratnya stalagmit, tetes demi tetes kebenaran itu membentuk stalagmit yang besar. Makan waktu, prosesnya lama. Tapi dari kebenaran sehari-hari ini pula terbentuk bangunan kebenaran yang lebih lengkap.
Waduh, susah bu! Sejujurnya nih gw gak ngerti. Kenapa gw kasih penjelasan yang panjang banget ini? Supaya you all know that ini nih outline yang bakal gw translate ke bahasa gw sendiri.
Kebenaran memang macem2 tergantung orangnya. Yang gw tangkep dari penjelasan panjang di atas adalah, kebenaran yang dikategorikan sebagai “kebenaran” (hmm belibet neh) adalah sesuatu yang kalau diterapkan bisa menghasilkan sesuatu yang sesuai harapan, sesuatu yang nyata hasilnya. Contohnya rute jalan, kalau memang bisa sampai ke tujuan maka itulah rute yang benar. Tiap orang bisa ngasih tahu berbagai rute, tapi satu doang yang bisa nganterin ke jalan yang benar.
Terus maksudnya kebenaran terbentuk lapisan demi lapisan?? Nah, analoginya rute jalan lagi ya,, Seiring berjalannya waktu, orang-orang menemukan rute baru, ada juga yang mengoreksi rute-rute yang sebelumnya salah. Akhirnya beberapa rute jalan yang benar muncul. Begitulah kebenaran, seiring dengan majunya pola pikir masyarakat, apa yang dianggap sebagai kebenaran akan terus berkembang sesuai zaman. Tapi tetap satu esensinya, kebenaran itu adalah hal yang bila diaplikasikan akan mendatangkan hasil yang nyata dan berguna.

2. Bagaimana seorang jurnalis membagi-bagi antara kepentingan publik, pembaca, dan pengiklan?

Pendapat gw, sebagai jurnalis harusnya kita mendahulukan para pembaca. Pembaca itu yang memperhatikan tulisan-tulisan kita, yah mesti kita perlakukan dengan baik dong mereka. Yang kedua barulah publik, dan terakhir pengiklan. Publik dan pengiklan membuat seorang jurnalis cenderung untuk gak menampilkan berita apa adanya. Publik membuat seorang jurnalis berusaha bikin berita yang sensasional, sedangkan pengiklan ngebuat jurnalis lebih memikirkan segi bisnis sebuah berita ketimbang kepentingan pembacanya.

3. Bagaimana tatacara verifikasi yang seharusnya dilakukan oleh seorang jurnalis?

Verifikasi yang mengecek ke lebih dari satu sumber. Lebih baik lagi kalau sumber tersebut adalah sumber yang independen, tidak berbackground kepentingan lain. Dalam memverifikasi suatu berita, seorang jurnalis mesti mengabaikan rumor, gossip, ingatan-ingatan dari orang-orang yang kurang terpercaya,dan bukti-bukti yang rentan termanipulasi. Coba cari perspektif baru yang kemudian menghasilkan informasi baru pula.

4.Independensi yang seperti apakah yang harus dilakukan wartawan?

Meliput berita apa adanya, tanpa tekanan, tanpa takut, dan tanpa konflik kepentingan. Emang sih, benar-benar independen tuh susah! Bayangin kalau kita bekerja untuk sebuah media, tapi fakta yang ada justru menjelekkan media kita. Bingung,kan mau nulis apa? Bill Kovach memberi solusi yaitu wartawan sebaiknya memberikan penjelasan tentang hubungannya dengan subjek berita tersebut (baik secara implisit maupun eksplisit) agar pembaca dapat menangkap bahwa laporan yang ditulis tidak independen-independen banget. Tapi, kalau tidak ada aral melintang, yah tulislah berita sesuai kenyataan yang ada. Itu independent menurut gw.

5. Apakah maksud dari investigative reporting?

Investigative reporting atau lazim disebut dengan reportase investigasi adalah sebuah jenis reportase di mana si reporter berhasil menunjukkan siapa yang salah, siapa yang melakukan pelanggaran hukum, yang seharusnya jadi terdakwa, dalam suatu kejahatan publik yang sebelumnya dirahasiakan. Wes, hebat banget bisa ngungkapin semuanya gitu! Kok bisa? Dari kata-kata reportase investigasi, yang terbayang di benak kita pasti suatu laporan berdasarkan penyelidikan yang penuh kerja keras dan ketelitian. Nyatanya memang begitu.
Langkah investigasi merupakan langkah yang sangat berani baik dari pihak reporter (yang mempertaruhkan keselamatan dirinya sendiri) maupun pihak media dimana reporter tersebut bernaung. Tidak sembarang orang yang bisa melakukannya dan tidak semua berita layak masuk dalam daftar sesuatu yang mesti di-investigasi. Masalah yang diangkat harus berhubungan dengan kepentingan publik dan syarat investigasi adalah “pikiran yang terbuka”. Pikiran yang dapat menerima fakta yang ada, tidak terkungkung dengan pemikiran sendiri saja.

6. Mengapa jurnalisme perlu menjadi forum publik?

Manusia mempunyai rasa ingin tahu. Ketika ada laporan mengenai suatu peristiwa, orang-orang pasti ingin mengetahui tentang peristiwa tersebut. Dari situlah timbul berbagai opini, tanggapan, ide, dsb. Jurnalisme mengakomodasi semua itu sehingga berbagai tanggapan itu bisa sampai pada khalayak luas. Itulah arti jurnalisme sebagai forum public, dan disinilah kebebasan berpendapat terlaksana.

7.Bagaimana cara menjadikan sebuah laporan memikat dan relevan?

Relevan berarti topiknya sesuai dengan apa yang lagi terjadi saat itu, memikat berarti menarik. Sebuah laporan harus relevan dulu, nah ngebuat laporan itu jadi menarik itu tergantung pada kreativitas si wartawan sendiri. Sang wartawan harus belajar memilih topic yang pas dan berkreatif ria agar laporannya menarik.

8.Seperti apakah berita yang proporsional dan komperehensif itu?

Berita yang pemaparannya sesuai untuk pembacanya, ter-integrated dengan baik, memberikan informasi yang dibutuhkan (sesuai 5W+1H), dan dalam porsi yang pas (tidak berpanjang-panjang dengan suatu cerita dan tidak pula teralu singkat menjabarkannya).

9.Bagaimanakah peran hati nurani bagi seorang jurnalis dalam mengerjakan tulisannya?

“Setiap individu reporter harus menetapkan kode etiknya sendiri, standarnya sendiri dan berdasarkan model itulah dia membangun karirnya,” kata wartawan televisi Bill Kurtis dari A&E Network.
Seorang jurnalis haruslah mendengarkan hati nuraninya sendiri. Semua wartawan seyogyanya punya pertimbangan pribadi tentang etika dan tanggungjawab sosial. Dalam membuat suatu berita, bila ia merasa ada sesuatu yang kurang pantas, seperti terlalu rasis atau sangat menyudutkan satu pihak, maka sebaiknya berita tersebut direvisi. Pantas atau tidak sebuah tulisan dipublikasikan, di situlah nurani berperan.

Fiuh… Selesai deh nih tugas. Dari berbagai jawaban di atas, ada yang merupakan pendapat gw dan ada juga hasil mengintisarikan dari berbagai sumber. Ini nih sumber-sumber gw:

  1. Website-nya LPM HAYAMWURUK

REFLEKSI BUDAYA DAN INTELEKTUALITAS MAHASISWA

Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Sastra

Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah, Indonesia

2. Blog-nya Pak Jaiz tentang Sembilan Elemen Jurnalisme

3. Blog-nya Pak Andreas Harsono tentang Investigative Reporting

4. Website Pantau.or.id

Yak,that’s all dari gw!! Sorry kalau ada kesalahan, maklum udah malem ngepostingnya,,Byebye…

Posted by: Mirrah | August 31, 2008

Sebelum Puasa…

Wah, gak nyangka sebentar lagi puasa! Masih inget gw waktu puasa pas kelas 3 sma.  Bikin acara bareng anak sekelas, pokoknya seru deh. Puasa tahun ini, gw mesti mandiri. Pertama kali cari sahur sendiri, gak ada yang bangunin sahur, dan lain-lainnya deh. Teman-teman gw minta maaf ya, kalau ada kesalahan. Semua yang benar datangnya dari Allah, gw cuma manusia biasa yang sering melakukan kesalahan dan kini meminta maaf dari kalian. Semoga bulan puasa kali ini membawa berkah buat kita semua. Amin.

Posted by: Mirrah | August 28, 2008

Journey to the center of the University!

Akhirnya gw bikin blog! Setelah bertahan untuk setia pada buku harian ( maklum gw suka konvensional, sok kuno) tapi beralih ke blog juga gw! O iya, first posting gw dibantu oleh teman gw, Fragaria. Soalnya setelah ngebuat blog, gw gak ngerti cara nulisnya…

Ni hari adalah hari ke-4 dalam minggu ke-2 gw kuliah, rasanya masih males. Masih kebayang INKM, itu mos plg seru seumur hidup! Dan yang berpendapat seperti itu, bukan gw sendiri, temen-temen kost dan sefakultas (se-sekolah, secara farmasi) juga. Salah satu temen kost gw, kita sebut aja Bribri, suka terharu kalau ngedenger lagu mentari, inget INKM katanya. Eh Bribri, loe lebai amat seh!! Tapi, mang bagus lagunya . Bermakna.

Gw paling seneng kalau dah barengan sama kelompok, soalnya seru! Kocak dah anak2nya. Walaupun ada juga yang kayak orang-orangan sawah alias alay gitu (hehehe, sebutan dari nak kelompok gw tuh). Kangen juga pas bikin-bikin topi dan atribut lainnya, gak nyangka dah selesai tuh acara. Obsesi gw sekarang pingin meng-INKM-kan angkatan 2009. Jadi taplok sepertinya asik,,Secara gw kan baik,,

Yap, itu tadi tentang masa awal di ITB yang alhamdulillah berkesan baik buat gw. Tapi, kayak yang gw bilang tadi, sekarang gw agak males nih! Bukan males belajar lho ( tumben, ajaib, spektakuler) males ama bebrapa orang lah,,, yang lucu nih, gw pernah sebel sama anak seangkatan gw, eh setelah gw kenal ternyata anaknya kocak banget. Dan mengapa gw pernah sebel sama dia? Sederhana dan gak masuk akal, karena tampangnya menyebalkan di mata gw! Wuakakakakakak!!! Gak lagi-lagi deh kayak gitu!

Well, secara gw sudah capek dan ngantuk, sudah dulu ya!

Akhirnyaa, terisi juga blog ini.

Posted by: Mirrah | August 27, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories